Siapapun Bisa Berkontribusi Kembangkan Perpustakaan

By DPPAD Provinsi Papua 07 Mar 2020, 16:44:51 WIB Umum
Siapapun  Bisa Berkontribusi Kembangkan Perpustakaan

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua tentang Pengembangan Perpustakaan

Di era teknologi seperti saat ini tak ayal menimbulkan tantangan baru bagi pengembangan perpustakaan karena saat ini berada di era teknologi komunikasi. Apa pandangan dari Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait tentang hal ini

Di zaman serba teknologi seperti saat ini memang menjadi momok menakutkan bagi pengembangan perpustakaan. Jikalau tidak mampu kreatif menciptakan inovasi guna menarik minat baca masyarakat pada umumnya, maka sudah tentu perpustakaan bakalan sepi pengunjung.

Baca Lainnya :

    Makanya, stakeholder terkait, dalam hal ini pengelola perpustakaan, terutama pemerintah, harus pintar-pintar membaca situasi, lalu meningkatkan sarana prasarana, termasuk ketersediaan buku di perpustakaan yang harus terpenuhi, sehingga dapat menarik minat baca semua kalangan masyarakat.

    Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait, mengakui bahwa minat baca yang rendah di Papua, salah satunya karena kurangnya inovasi untuk menarik masyarakat gemar membaca.

    Oleh sebab itu, menurutnya, saat ini merupakan momen yang tepat untuk mencari berbagai inovasi guna membuat orang jadi gemar membaca. Sohilait menyebutkan hal-hal yang akan dilakukan guna mendukung pengembangan perpustakaan, khususnya di Papua.

    “Pertama, kita benahi perpustakaan di seluruh Papua, baik milik sekolah, organisasi, maupun swasta. Ini termasuk sarana pendukungnya, seperti halnya di Perpustakaan Daerah di Kotaraja, Kota Jayapura, yang harus didukung dengan suasana yang membuat nyaman para pembaca, baik pelajar, mahasiswa, hingga kalangan umum,” terangnya kepada Cenderawasih Pos.

    Kemudian, yang paling penting ialah kebutuhan buku yang harus terpenuhi di setiap perpustakaan. Sohilait berkisah kunjungannya ke SMK Negeri 6 di Koya. Di sela-sela kunjungannya itu, diawali dengan basa-basi dengan abang penjual bakso di sekitaran sekolah tersebut, Sohilait akhirnya mengajak pelaku UMKM itu untuk melihat kondisi perpustakaan sekolah itu yang mengalami kekurangan buku bacaan.

    “Dikatakan penjual bakso tersebut bahwa dirinya telah berjualan selama 4 tahun belakangan di sekitaran SMK 6 Koya, dengan penghasilan yang disebutkannya mencapai Rp 9 – 12 juta, namun tidak memiliki kontribusi terhadap sekolah itu,”terangnya.

    “Saya ajak dia ke perpustakaan sekolah itu di mana buku-buku masih sangatlah kurang. Saya minta dia untuk menyumbangkan buku, paling tidak 3 buku dalam satu bulan, dengan harga satu bukunya paling rendah Rp 8.000. Penjual bakso itupun menyanggupinya,” sambungnya.

    Artinya, satu penjual bakso tersebut bisa menyumbang 36 buku dalam setahun. Dengan jumlah penjual bakso yang sangat banyak di Papua, maka tak menutup kemungkinan pula untuk meminta kontribusinya terhadap pendidikan dan perpustakaan di Papua.

    “Ini sudah berlangsung lama, tapi saya heran tidak ada mata yang bisa melihat hal ini. Hari ini kebetulan saya lihat potensi itu, sehingga ini yang ingin saya garap,” jelasnya.

    Sehubungan dengan itupula, tak heran Sohilait pun menekankan agar survey dan pendataan terhadap kebutuhan buku penting untuk dilakukan jajarannya. Bahkan, buku yang sulit didapatkanpun akan dicari cara untuk mendapatkannya. Pasalnya, menurut Sohilait, bagaimana masyarakat mau membaca kalau buku yang dibutuhkannya itu tidak tersedia.

    “Contohnya, mahasiswa teknik sipil mau membaca buku yang berkaitan dengan bidangnya, tapi malah buku tersebut tidak ada di perpustakaan. Ini malah membuat orang jadi malas pergi ke perpustakaan,” pungkasnya.

    Sumber Berita




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Write a comment

    Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

    View all comments

    Write a comment